Minggu, 14 April 2013

laporan hasil bacaan- tasawuf dalam al-quran karya mir valiudin

 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi dan majunya teknologi seperti saat ini membuat banyak generasi muda yang tidak gemar membaca mereka hanya mengandalkan yang instan-instan saja seperti selalu browsing ketika medapatkan tugas dari guru dan hanya mengadalkan guru dan diskusi kelas untuk belajarnya. Karena dikhawatirkanya ajaran yang salah dalam kebiasaan ini maka saya membuat laporan hasil bacaan ini agar para generasi muda memahami isi pokok bacaan sesuai degan sumbernya.
B. Tujuan
Tujuan dari membuat laporan hasil bacaan ini adalah supaya saya bisa memahami isi pokok dari setiap bab dan bisa mengerti ajaran apa yang terkandung pada setiap bab agar saya juga bisa mengamalkan ajaran tersebut dengan baik.
C. Pentingnya Membuat Laporan
Sangat penting sekali membuat laporan seperti ini karena dengan cara seperti ini saya tidak akan lupa dan bisa terus mengingat lagi apa saja yang sudah saya baca. Selain itu, dengan membuat laporan seperti ini, saya menjadi tau inti dan poin penting dari setiap bab itu apa karena saya sudah membaca buku tersebut sampai tamat.
D. Manfaat dan Menariknya Membuat Laporan
Manfaat dari membuat laporan ini adalah kita menjadi pribadi yang mandiri karena kitalah yang mencari tau sendiri isi pokok yang terkandung pada buku ini. Dan kita juga tidak hanya mengandalkan apa yang telah kita dapat dari dosen atau dari hasil diskusi kelas, tapi kita perluas lagi dengan cara meringkas isi pokok dari setiap bab dan kita membuat menjadi laporan hasil bacaan seperti ini.

BAB I
Apa yang Dimaksud dengan Tasawuf?
Sebelum kita mengetahui apa yang dimaksud dengan tasawuf kita harus mengetahui pengertian sufi terlebih dahulu karena Sufi di dalam tasawuf berperan sebagai subjek, maka sekarang saya akan membahas pengertian Sufi secara bahasa terlebih dahulu.
Dalam kitab at-Ta’aruf madhahah ahl al-tasawwuf karya Abu Bakar al-Kala’badhi diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan judul The Doctrine of Sufis oleh Arthur John Arberry, Cambridge University Press, 1930 . Menjelaskan asal usul kata sufi antara lain :
1. Sebagian sufi berkata: “Para Sufi diberi nama Sufi karena kesucian (Safa) hati mereka dan kebersihan tindakan mereka (athar).”
Tetapi bila istilah Sufi berasal dari Safa bentuk yang tepat seharusnya Safawi dan bukan Sufi.
2. Sebagian lain berfikir, Sufi disebut Sufi hanya “karena mereka berada di baris pertama (Saff) di depan Allah, melalui pengangkatan keinginan mereka kepada-Nya, dan tetapnya kerahasiaan mereka di hadapan-Nya.”
Tetapi bila istilah Sufi mengacu kepada saff (tingkat) maka seharusnya Saffi dan bukan Sufi.
3. Sebagian yang lain lagi berkata: “Mereka disebut kaum Sufi karena sifat-sifat mereka menyerupai orang-orang yang Bangku (Ashab al-Suffa) yang hidup pada masa nabi.
Tetapi bila istilah Sufi merupakan turunan dari Suffah (bangku) bentuk yang benar haruslah Suffi bukan sufi.
4. Terakhir adalah anggapan bahwa mereka disebut Sufi hanya karena kebiasaan mereka memakai Suf, yaitu wol.
Anggapan ini dapat diterima karena sesuai dengan bentuk yang tepat.
3
Inti sari dari berbagai definisi ini ditampilkan dalam sebuah definisi yang dirumuskan oleh Syeikh al-Islam Zakariyah Ansari yaitu: “Tasawuf mengajarkan cara untuk menyucikan diri, meningkatkan moral dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna mencapai kebahagiaan yang abadi. Unsur utama tasawuf adalah penyucian jiwa, dan tujuan akhirnya adalah tercapainya kebahagiaan dan keselamatan abadi.”
Adapun pengertian tasawuf menurut para ahli sebagai berikut :
 Abu’l Hasan Nuri: Tasawuf adalah penyangkalan atas semua kenikmatan untuk diri sendiri.
 Abu ‘Ali Qazwini: Tasawuf berarti tingkah laku yang baik
 Abu Sahl Sa’luki: Tingkah laku yang tidak menimbulkan protes.
 Abu Muhammad al-Jurairi: Tasawuf adalah membangun kebiasaan yang terpuji dan penjagaan hati dari semua keinginan dan nafsu.
 Muhammad Ibn al-Qassab: Tasawuf adalah tindakan terpuji yang ditampilkan oleh orang yang lebih baik, pada masa yang lebih baik dan pada suatu bangsa yang lebih baik.
 Muhammad Ali: Tasawuf adalah sifat yang baik, seseorang yang memiliki sifat yang lebih baik adalah seorang Sufi yang lebih baik.
 Abu Muhammad Ruwaim: Tasawuf tak lain adalah penyerahan diri kepada kehendak Allah.
 Ma’ruf Karkhi: Tasawuf tidak memperdulikan kenyataan dan mengabaikan apa yang dimiliki oleh manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa menurut para ahli sufi yang terkenal, Tasawuf adalah penyucian akal dan kehendak hati.
Tasawuf yang sesungguhnya terdiri atas usaha-usaha untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang dianggap menyimpang dari ajaran-ajaran agama dan usaha untuk menyadari kehadiran-Nya! Tasawuf mengajarkan kepada kita untuk mati dalam diri kita dan hidup abadi dalam kehidupan untuk-Nya. Sumber dari tasawuf ini adalah kitab suci Qur’an dan hadits Nabi Muhammad.

BAB II
Ibadah dalam Islam
Hukum pertama yang mengatur kehidupan manusia dan hewan adalah pencapaian kemajuan dan penyingkiran sakit. Mempertahankan diri dan memperbanyak jumlah jenisnya sangat penting bagi keduanya, sehingga manusia mungkin akan mencari hal-hal yang akan membantu mempertahankan hidupnya dan ia akan menyingkirkan hal-hal yang akan menghancurkan kemampuannya. Inilah sesungguhnya yang mendasari penyebaran makhluk hidup. Segala sesuatu ada yang bermanfaat atau merugikan, berguna atau merusakkan, baik atau buruk! Makhluk hidup yang terpengaruh oleh hal-hal tersebut akan mengalami perasaan seperti senang, cinta, memuja dan patuh atau muncul rasa sedih, benci dan khawatir. Emosi-emosi ini menguasai dirinya dan mendorong dia untuk berbuat , ia tidak dapat melepaskan diri dari hal-hat tersebut sampai akhir hayatnya.
Selama masa hidupnya yang pendek, setiap orang dengan cermat memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi. Bila seorang yang dikaruniai dengan pemikiran yang cermat menyadari penyebab perubahan dan pergeseran, perubahan-perubahan yang terjadi, kaitan ketergantungan yang muncul karena kepentingan, keinginan dan kebutuhannya, ia akan menyadari kekurangan yang dimiliki oleh setiap makhluk, kini ia mulai mencari Yang Maha Agung yang bebas dari waktu dan kerusakan, Yang Maha Ada dan Maha Mengetahui, Yang Maha Penting, Yang memiliki semua sifat kesempurnaan, kekuatan yang tertinggi adalah Tuhan, Penguasa, dan Pencipta alam semesta ini.
Untuk menyingkirkan kesesatan akal dan pikiran, Nabi Muhammad dari Arab menyampaikan pesan agama Islam kepada segenap manusia di muka bumi ini, manusia yang merupakan makhluk yang paling mulia di antara segala macam makhluk dan tak layak merendahkan diri menyembah makhluk yang lebih rendah (derajat disbanding dirinya). Selayaknya ia hanya menyembah Yang Maha Pemurah, Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Kuasa yang mengatur segala hal serta tak bercela dan cacat.
5
Inti agama adalah bahwa hanya Allah semata yang patut disembah dan hanya kepada-Nya kita memohon tuntutan dan intinya adalah mempertahankan tauhid. Ibadat adalah istilah untuk “penghambaan atau pengabdian” yang ekstrim yang dilakukan di hadapan Pencipta kita yang sesugguhnya, yaitu dengan cara: berdo’a, puasa, memberi zakat, dan naik haji ke Mekkah.
Nabi Muhammad menganjurkan agar kita meminta tuntunan kepada Sang Pencipta, anjuran itu antara lain yaitu :
 Doa: Berdoalah kepada Allah yang Maha Kuasa apabila engkau menginginkan dan membutuhkan sesuatu, ini adalah salah satu perintah-Nya dan Allah yang Maha Kuasa sendiri yang menjanjikannya: “mintalah kepada-Ku dan Aku akan mengabulkannya.”
 Tawakal: Mempercayakan semua permasalahan kita kepada Allah yang maha kuasa. Kalau kita yakin dan percaya sepenuhnya kepada Allah maka segala ketakutan dan kekhawatiran kita akan hilang.
 Kesabaran: Menyembunyikan kesedihan karena bencana yang kita alami dan menerimanya dengan lapang dada. Allah Yang Maha Kuasa menganjurkan pengikut-pengikut-Nya untuk tetap tenang dan sabar menghadapi apa pun dalam hidupnya.
 Syukur: Menghaturkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala nikmat-Nya. Dengan cara menghargai rahmat yang kita terima dari Allah, mengakui adanya rahmat, berdoa setelah menerimanya, mematuhi perintah-Nya, dan memuji Allah ketika mendapatkan rahmat.
 Penyesalan: Mengakui dosa-dosa dengan setulusnya berpaling kepada Allah untuk menyatakan penyesalan. Allah mengampuni orang-orang yang berpaling kepada-Nya untuk bertaubat. Orang yang menyesal dan bertaubat berarti ia menyucikan hati yang penuh dosa dan akhirnya ia menjadi orang yang dikasihi Allah.
 Dzikir: memohon bantuan dari Allah agar mengingatkan kita dan berharap Ia akan menyenangi kita, kita harus mengingat Dia dan patuh kepada setiap tindakan dan keputusannya. “maka ingatlah Aku, Aku akan mengingatmu” (Qur’an, II, 152)
 Ridha: apabila kita berserah diri kepada Allah dan Ia senang kepada kita.

BAB III
Transendensi dan Imanensi
Sebelum saya membahas lebih jauh mungkin ada yang bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud dengan transendensi dan imanensi itu sendiri. Singkatnya, transendensi dan imanensi ialah penggabungan dua hal yang tidak mungkin disatukan. Yang dimaksud dengan dua hal disini ialah dhat (intisari Tuhan) dan intisari makhluk ciptaan-Nya.
“Dia adalah Yang Pertama dan Yang Terakhir, Yang Lahir dan Yang Batin serta Dia Maha Tahu” (Qur’an, LVIII, 3). Inilah ajaran keagamaan islam yaitu Allah adalah Tuhan kita, hanya Dia lah Tuhan dan Pencipta kita, Dia yang kita sembah dan dari-Nya kita mohon pertolongan. Tetapi pertanyaan yang muncul ialah: dimana kita harus mencari Allah ini, kepada siapa kita harus menyembah dan kepada siapa sebelumnya kita mengungkapkan kerendahan hati dan kepatuhan kita? Kita telah diberi tahu bahwa Dia Yang Pertama, Yang Terakhir, lahir serta batin kita, dekat dengan kita, Dia ada bersama kita. Lalu kita ini apa dan siapa jika Allah hanya kita ketahui melalui ilmu pengetahuan tentang diri kita sendiri? Apa gunanya segudang ilmu pengetahuan formal tanpa sepengetahuan tentang diri sendiri? Tujuan apa yang diharapkan dari kita?
Dalam Qur’an terdapat cukup tuntunan untuk menanamkan pengenalan tentang diri sendiri pada kita. Mengenai “ayat penciptaan” (Ayat Taqliq) kita mengetahui bahwa “makhluk” tidak hanya diterapkan pada semua objek dalam alam semesta melainkan juga bagi diri kita sendiri. Tuhan Yang Maha Kuasa berkata tentang penciptaan objek: “sesungguhnya, ketika Ia menghendaki suatu benda, perintah-Nya “jadilah” dan benda itu pun jadilah!” jelas bahwa Tuhan sedang berbicara kepada suatu benda perintah-Nya adalah: “jadilah!” ada dua dugaan, yaitu apakah benda itu “ada” atau “tidak ada”. Benda yang dikehendaki keberadaannya oleh Tuhan secara lahiriah, harus ada dalam pikiran-Nya dan harus tidak ada secara lahiriah.

Hubungan antara Tuhan, sebagai makhluk tunggal dan makhluk yang paling (tidak seperti apa pun), dan benda-benda di alam semesta dapat dinyatakan dalam bahasa teologi sebagai berikut:
Tuhan Mahluk biasa
Pencipta (Khaliq) Mahluk ciptaan (Makhluk)
Tuhan (Rabb) Hamba (Marbub)
Yang Disembah(Ilah) Penyembah (Maluh)
Tuan (Malik) Pelayan (Mumluk)
Intisari dari seluruh doktrin sejauh ini menyatakan bahwa manusia tidak dapat menjadi Tuhan, seperti anggapan beberapa orang bahwa tasawuf islam adalah suatu tahap Panteisme. Meskipun ada perbedaan dan kelainan nyata antara dhat (Intisari Tuhan) dan intisari makhluk ciptaan-Nya kenyataan bahwa Tuhan berada dimana-mana, dekat, tetap ada, yang pertama, dan terakhir, memiliki sifat luar dan dalam. semua itu ditegaskan dalam Qur’an dan Hadits.
Dengan pengetahuan mengenai keberbedaan dan kesamaan, kenyataan dan gejala, immanensi dan transendensi, kita menguasai pengetahuan mengenai diri kita sendiri, bahwa Allah Yang Maha Kuasa (terlepas dari aspek-aspek diri kita) mewujudkan diri-Nya melalui aspek-aspek diri kita semata. Makrifat ini membuat kita berada ditingkatan ‘Abdiyat yang merupakan tingkat tertinggi dan yang terdekat dengan Allah.
Yang dilakukan seorang abdi sejati adalah merasakan bahwa Tuhan ada dalam dirinya tanpa menginderai kehadiran-Nya. Hasilnya adalah peleburan dalam Dzat Tuhan yakni apabila seseorang khusuk beribadah kepada Tuhan dengan ibadah yang sempurna dari dalam hati, tanda-tanda “huwal Batin” (Dialah Batin).

BAB IV
Tanazzulat Turunnya yang Mutlak
Tuhan adalah Wujud Mutlak. Dia tidak mempunyai sekutu, tidak ada yang menyamai. Tidak ada lawan jenis-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia tidak mempunyai bentuk maupun rupa. Dia tidak berawal dan tidak berakhir dan Dia juga tidak universal maupun khusus. Dia bebas dan lepas dari segala pembatasan, bahkan bebas dari segala pembatasan kemutlakan. Pemahaman intuitif yang mampu menangkapnya merupakan suprarasional dan bukan kontra-rasional. Alasan teoritis tidak dapat menguatkan atau menolak Dia. Menurut ayat “Dia tidak menyerupai segala sesuatu.” Dia bebas dari segala sehi makhluk ciptaan dan oleh karenanya benar-benar mutlak.
Sekarang Wujud Mutlak tersebut dalam tahap yang lebih tinggi tidak dikenal dan tidak dapat dikenal mengungkapkan Diri Sendiri dalam berbagai perwujudan dan bentuk-bentuk yang berbeda, atau dalam terminology sufi turun dalam bentuk-bentuk ini, atau meng individualisasikan Diri Sendiri melalui bentuk-bentuk yang berbeda. Tahap-tahap turunan tak terkira banyaknya tetapi yang paling menonjol dari jumlah yang banyak tersebut hanya ada enam dan diberi istilah oleh kaum Sufi sebagai enam turunan. Tiga yang pertama disebut Maratibillahi (jabatan Tuhan) yaitu Ahadiyyat (intisari keesaan) yakni keadaan Dzat Tuhan, keadaan tanpa warna, keadaan Maha Besar, keadaan tanpa batas. Kedua adalah Wahdat (Persatuan) dan yang ke tiga adalah Wahidiyyat (Persatuan dalam Kemajmukan). Tiga sisanya disebut Maratib-i-Kawni (Jabatan Duniawi) yang terdiri dari Ruh (Roh), Mithal (keserupaan) dan Jism (Jasmani). Manusia dating terakhir dari tiga ini dan derajatnya meliputi semua derajat lainnya. Karena Ahadiyyat merupakan Wujud murni maka ada enam turunan dari Wahdat atau pertama bagi manusia . sebelum jadi manusia ada lima tahap dari tahap pertama ke taraf tubuh, lima tahap ini disebut Lima Taraf Wujud.
Sekarang saya akan menerangkan beberapa pokok bahasan tentang Turunan secara singkat, padat dan jelas.
(1) Ahadiyyat: Taraf Persatuan Abstrak. Ahadiyyat berarti Wujud Mutlak Tuhan. Wujud tersebut sesuai dengan sifat dasar-Nya yang merupakan hal yang tidak diketahui dan tidak dapat diketahui, itulah sebabnya mengapa Dia dianggap sebagai “Gaib yang Mutlak” (yang tak terlihat)
(2) Wahdat (persatuan): taraf dimana ahli marifat memikirkan Wujud Tuhan sebagai satu-satunya yang sadar akan Diri Sendiri dan mengetahui kemampuan Dhat-Nya, bahwa hanya diri-Nya yang ada, tak ada apa pun yang lain yang ada. Dan Dia memiliki kemampuan untuk memanifestasikan Diri-Nya sendiri. Taraf ini disebut juga taraf Perwujudan Pertama atau Realitas Muhammad atau disebut juga “Mutlak I”.
(3) Wahidiyyat: ketika golongan ahli makrifat memikirkan Dhat Tuhan dalam pengertian bahwa Dhat tersebut memiliki yang sangat terinci yang mencakup nama-Nya, sifat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya, serta mencakup semua aspek hal-hal tersebut dan hubungan timbal- balik antara hal-hal tersebut dan saling berbeda antara hal-hal tersebut. Taraf ini disebut juga Penjelmaan kedua atau Realitas Manusia – Nafas Suci
Sesungguhnya Tuhan telah menyebarkan wujud relatif yang merupakan sebuah bayangan dari wujud sejati-Nya, pada intisari makhluk ciptaan sehingga makhluk ciptaan dalam realias diwakili oleh sesuatu yang benar-benar ada yang menyatakan intisari dari luar yang hidup dalam pengetahuan Tuhan.
Perlu dibedakan antara intisari makhluk ciptaan dan intisari Tuhan, antara Tuhan dan abdi hamba, dan antara makhluk dan Wujud. Orang yang tidak membuat perbedaan iniadalah orang yang tidak mempunyai sikap, atheis, dan bid’ah; dia tidak bijaksana, dia tidak waspada. Ada sebuah perbedaan antara Wujud dengan makhluk. Makhluk hanyalah merupakan cermin dari manifestasi Wujud. Oleh karena itu sebagai intisari makhluk mereka benar-benar berbeda dari pada Tuhan dan Wujud dalam aspeknya yang nyata adalah benar-benar tuhan sendiri. Wahdatul-Wujud atau Persatuan Wujud adalah dalam pandangan Wujud dan bukan dalam pandangan makhluk. Identitas murni adalah bid’ah dan atheisme yang menolak keberadaan makhluk. Menurut aspek makhluk “segala sesuatu berasal dari Dia” adalah sangat benar, dan menurut Wujud “segalanya adalah dari Dia” sungguh-sungguh dapat dibenarkan.

BAB V
Menentukan Nasib Sendiri
Tidak ada perkara yang terus menerus ada dalam filsafat selain masalah kemauan bebas dan menentukan nasib sendiri. Di samping sifat teoritis persoalan itu, manusia telah bergulat dengannya selama berabad-abad. Karena bagaimanapun persoalan itu bukan hanya persoalan akademis semata. System teologi, politik, ekonomi, pendidikan, dan kriminologi kita didasarkan atas cara-cara dasar yang dipergunakan manusia untuk menjawab pertanyaan bersejarah ini.
Rahasia takdir merupakan rahasia terbesar bagi semua ilmu pengetahuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa mengungkapkannya hanya kepada orang-orang yang telah dipilihnya secara khusus untuk makrifat sempurna. Semua makhluk telah diciptakan dengan ketetapan dan segala sesuatunya yang mereka perbuat ada dalam kitab-kitab. Makhluk meliputi perbuatan-perbuatan juga dan Tuhan menjadi pencipta segala sesuatunya. Perlu dimengerti bahwa Dia Pencipta perbuatan-perbuatan juga. Jika perbuatan tidak diciptakan, Tuhan akan menjadi pencipta hal-hal tertentu saja, bukan segalanya, maka kata-kata-Nya “pencipta segalanya” akan salah. Tuhan jauh lebih mulia di atas itu. Kita bahkan tidak membutuhkan argumentasi deduktif ini. Qur’an menyatakan dengan jelas: “Tuhan telah menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat.” (Qur’an, XXXVII, 13). Hal ini menunjukan Tuhan sebagai pencipta perbuatan kita.
Agama Islam telah membuat aspek Takdir Sendiri menjadi sangat jelas dan ajaran Islam itu menerangkan kepada kita hanya sampai sejauh ini, bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya. Namun keseluruhan ajaran Takdir tidak bertentangan dengan kemauan bebas atau usaha menentukan nasib. Inti dari tesis yang saya baca adalah “Tuhan yang menciptakan manusia sekaligus perbuatannya”.
 
BAB VI
Kebaikan dan Kejahatan
Siapa yang dapat menyangkal adanya kejahatan di dunia? Adakah seseorang yang tidak mengeluh tentang kesengsaraan dan kesedihan? Siapa yang baik fisik maupun mental tidak menjadi malapetaka? Tidak seorang pun yang tidak mengeluh tentang kesengsaraan yang di tanggungnya, istirahat hanya dapat dinikmati bila kita mati, tak seorang pun ditakdirkan hidup bahagia di dunia ini.
Keterbatasan manusia sejauh ini tidak dapat menangkap makna dan konotasi kabaikan dan kejahatan! Tasawuf dalam Islam juga menerangkan tentang kejahatan, petunjuk diperoleh dari Kitab Suci Qur’an, kemudian akal yang mendukungnya.
Inti makhluk adalah ide Tuhan Yang Maha Kuasa mereka tidak mempunyai wujud yang bebas. Mereka hanya hidup dalam ide Tuhan. “Bukan Dhat yang nisbi.” (‘Adam-i-idafi) adalah istilah bagi yang tidak memiliki dhat. Jelas, apabila tidak ada dhat, akibat dhat pun tidak ada yaitu sifat, tindakan, rasa memiliki, dan sebagainya. Ketiadaan sifat itu semua dikatakan sebagai sifat-sifat bukan wujud. Anda bisa melaksanakannya pada tubuh anda, misalnya bayangkankanlah teman anda maka bayangannya akan muncul di depan mata. Ini sebagai ide, tidak memiliki wujud lahir, dan jika tidak memiliki wujud lahir, maka hal itu dianggap tidak mempunyai semua efek kehidupan. Dengan kata lain kehidupan dianggap berasal dari keadaan hidup. Anda memiliki kehidupan, pengetahuan, kekuatan, kehendak dan sebagainya di dalam tubuh anda, tetapi gambaran batin tidak memilikinya. Alasan utama yang melandasi hal ini adalah bahwa dalam diri anda ada Aniyya (keakuan) dan Huwiyya (kedirisendirian); anityya dan huwiyya merupakan sumber sifat dan tindakan. Dalam gambaran batin tidak terdapat Aniyya ataupun Huwiyya. Inilah sebabnya mengapa hal ini dianggap menghambat sehala sifat, tindakan, dan akibat. Aniyya dan Huwiyya dianggap sebagai milik Tuhan semata, yakni Yang Mengetahui, intisari semua benda adalah “yang diketahui, semua itu ide, dan tidak memiliki Aniyya dan Huwiyya, dan oleh sebab ketiadaan ini benda-benda itu sama sekali tidak memiliki sifat wujud dan tindakan.

BAB VII
Kehadiran Tuhan:
Pengalaman Lahir dan Batin
Kita harus dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam hati dan mengindera kehadiran Tuhan. Tujuannya adalah merasakan dan mengindera kehadiran Tuhan setiap saat. Kelupaan terhadap Tuhan harus hilang sehingga anada akan selalu diberkati dengan kehadiran-Nya, dan “penampilan dari seutuhnya dalam inti Tuhan” akan terjadi.
Sekarang untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam batin dan mengindera kehadiran Tuhan, secara lahiriah penting untuk mengembangkan pandangan yang disebut “Muraqibai-Nazari”. Tipe meditasi ini mempunyai dua tahap dan Makhdum Sawi member nama berbeda untuk dua tahap tersebut dan menentukan makna masing-masing:
1. renungan benda-benda fenomena (Miraqiba-I Khalaq)
Untuk melaksanakan renungan ini anda harus meneliti bentuk segala sesuatu dan yakin bahwa semuanya ini merupakan bayangan atau refleksi ide Tuhan atau inti benda yang dipantulkan dalam cermin wujud Tuhan.
2. renungan ilahi (Muraqiba-i-Haqq)
Untuk melatih renungan semacam ini, seseorang harus yakin bahwa keadaan benda dan perasaan lahir dan batin bukan apa-apa melainkan wujud Tuhan. Tuhan yang Agung dan Mulia menunjukkan Diri-Nya dalam cermin inti benda sesuai dengan sebutan-sebutan yang Indah dan agung.
Seorang ahli makrifat juga merupakan seorang pembimbing yang sempurna, menjelaskan masalah ini, yaitu bahwa “Tuhan dalam sifat-Nya yang kekal tanpa perubahan individualitas mewujudkan diri-Nya melalui Cahaya, dalam bentuk obyek fenomena”. Untuk tahap awal, anda tidak akan berhasil, sebagian waktumu lewat kelalaian dan hanya kadang-kadang saja kau mengingat Tuhan. Tahap ini merupakan tahap persiapan.
Tetapi anda harus gigih dan mencoba terus! Anda harus menyerahkan dan menghabiskan hidup ini dengan do’a, renungan, dan hubungan yang erat dengan Tuhan, merasakan kehadiran-Nya dalam batin dan mengindera kehadiran-Nya secara lahir.
Metode yang harus anda ikuti setiap hari adalah:
1. Berterima kasih kepada Allah, dengan mengucapkan: ya Tuhan yang Maha Kuasa. Karena berkah dan rahmat-Mu, kau bebaskan aku dari ketidaktahuan akan kebenaran, serta menerangi pikiranku dengan sinar keimanan. Kau sendiri menunjukkan padaku bahwa Kau sendiri berwujud, ada dalam batin, yang Pertama dan yang Terakhir dari segala sesuatu! Tujuan hidupku adalah pelaksanaan Kehadiran Ilahi!
2. Berdo’a kepada Allah: ya Tuhan yang Maha Kuasa dengan berkah dan rahmat-Mu, limpahkan peringatan-Mu yang tiada hentinya! Hilangkanlah kelalaian dan sifat pelupaku. Dengan segenap kerendahan hati aku memohon agar Kau selalu dalam jangkauanku dan tunjukkan rahasia batin-Mu.
3. Bersabar: ya Tuhan yang Maha Kuasa! Dengan sabar dan kujalani rasa sakit dan kegelisahan lantaran lambatnya tercapai keinginanku. Aku tahu bahwa Kau memperhatikan keadaanku dan bermurah kepadaku . kau juga Maha Kuasa dan kelambanan ini ada hikmahnya yang bermanfaat bagiku. Dengan kesabaran dan kegigihanku, aku mohon berkah-Mu akanbpersahatan yang agung seperti yang telah Kau janjikan.
4. Ketergantungan pada Tuhan dan Kepatuhan: ya Tuhan yang Maha Kuasa! Untuk mencapai tujuanku aku telah mempercayakan diriku dalam lindungan-Mu. Aku telah mempercayakan tugas ini hanya pada-Mu. Hanya diri-Mu yang dapat mengatasinya.
5. Penyerahan diri pada Allah: ya Tuhan Yang Maha Kuasa! Kelalaian yang ku alami berhubunga dengan inti yang ada dalam pengetahuan-Mu . kau mengungkapkan diri-Mu sesuai dengan itu, aku tunduk pada perintah Ilahi.
“Ya Allah semoga aku bisa mencapai keadaan itu”

MANFAAT BUKU BAGI PEMBACA
Buku Tasawuf dalam Qur’an karya Mir Valiudin ini sangat bermanfaat bagi seluruh umat muslim terutama yang ingin mendekatkan diri kepada Allah swt dan ingin menjadi kekasih-Nya. Pembaca tidak perlu khawatir tentang penyesatan dalam buku ini karena buku ini mengacu kepada Qur’an dan Hadits rosul.
Manfaat dari membaca buku ini adalah lebih mengetahui tentang pengertian tasawuf dan ilmu terapannya. Kemudian buku ini juga mengajak kita untuk melihat arti tasawuf dengan berbagai nuansa, aliran-aliran yang berkembang di dalamnya, termasuk sosok manusia yang ideal (insan kamil). Lalu juga mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan menggunakan ajaran tasawuf. Dengan bertasawuf senantiasa akan membuat hidup kita menjadi lebih tentram dan tidak tergoda oleh soal keduniawian.
 
KOMENTAR KRITIS
Buku Tasawuf dalam Qur’an karya Mir Valiudin menggunakan bahasa yang tidak terlalu rumit sehingga dapat dipahami oleh orang awam sekalipun. Secara keseluruhan isi dari buku ini cukup menarik dan sangat bermanfaat bagi seluruh umat muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah swt dan menjadi kekasih-Nya. Namun, masih banyak kesalalahan yang harus diperbaiki, diantaranya adalah:
1. Masih banyak penulisan kata yang salah diantaranya :
 Pada halaman 1 “laing” seharusnya adalah lain.
 Pada halaman 55 “hahiran” seharusnya adalah hadiran.
 Pada halaman 59 “figh” seharusnya adalah fiqh. Dan lain sebagainya.
2. Masih banyak pula penulisan yang tidak sesuai dengan EYD diantaranya:
 Pada halaman 19 terdapat tulisan “..yang pendek,setiap..” seharusnya setelah tanda koma ada space terlebih dahulu.
 Pada halaman 131 terdapat tulisan “laindalam” seharusnya terdapat space setelah kata lain.
 Pada halaman 147 terdapat tulisan “di mana” seharusnya tidak ada space diantara di dan mana. Dan lain sebagainya
3. Terdapat kata-kata yang tidak dimengerti oleh orang awam dan tidak dijelaskan diantaranya:
 Pada halaman 52 “panteisme”.
 Pada halaman 85 “proksimitas”. Dan lain sebagainya.
4. Dalam pembahasan yang menggunakan numberik ada beberapa yang langsung ke nomor 2 sehingga pembaca harus membaca ulang untuk mengetahui yang pertama.
5. Pembahasan suatu masalah terlalu rumit. Banyak menggunggunakan pengulangan kalimat sehingga kadang membuat pembaca bingung.

KESIMPULAN
Tasawuf yang sesungguhnya terdiri atas usaha-usaha untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang dianggap menyimpang dari ajaran-ajaran agama dan usaha untuk menyadari kehadiran-Nya! Nabi Muhammad menganjurkan agar kita meminta tuntunan kepada Sang Pencipta, anjuran itu antara lain yaitu: doa, tawakal, kesabaran, syukur, penyesalan, dzikir, dan ridha.
Manusia tidak dapat menjadi Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa (terlepas dari aspek-aspek diri kita) mewujudkan diri-Nya melalui aspek-aspek diri kita semata. Tuhan telah menyebarkan wujud relatif yang merupakan sebuah bayangan dari wujud sejati-Nya. Kita harus dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam hati dan mengindera kehadiran Tuhan. Tujuannya adalah merasakan dan mengindera kehadiran Tuhan setiap saat. Dengan metode yang harus kita ikuti setiap hari yaitu: berterima kasih kepada Allah, berdo’a kepada Allah, bersabar, ketergantungan pada Tuhan dan kepatuhan, serta penyerahan diri pada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar